DOSON INDONESIA DALAM MEMORI ( I )

Share

Tidak bisa larut dalam kesedihan Tim Pemberes Doson (TPD) langsung bekerja sesuai bagian masing-masing, cek posisi keuangan, menyiapkan data kewajiban perusahaan kepada pekerja,supplier,bank dan pihak lainnya. Setiap hari TPD bekerja sambil melayani bila ada ex pekerja yang datang ke pabrik untuk menanyakan pesangon, minta surat keterangan   dan lain sebagainya.

Pada Desember 2002 menjelang hari raya Idul Fitri, perusahaan membayarkan jatah pesangon masing-masing pekerja sebesar Rp. 500.000,-(lima ratus ribu Rupiah)  untuk membantu pekerja melewati Hari Raya. Pada saat itu nilai pesangon belum dapat ditetapkan karena masih ada-nya perselisihan antara serikat pekerja dengan perusahaan terkait dengan besaran nilai pesangon. Adapun rencana  pembayaran pesangon kami lakukan bertahap sesuai dengan ketersediaan dana di perusahaan.  Dimulai dari NIK (Nomor Induk Karyawan) yang paling lama serta ex pekerja yang mau menerima besaran pesangon sebesar 1(satu) kali PMTK sesuai Kepmenaker 150/2000,  seperti yang disanggupi perusahaan.

 Sebagian ex-pekerja Doson bekerja kembali di pabrik sepatu lain, bagi yang tidak mendapatkan pekerjaan kami sarankan untuk  pulang kampung sambil menunggu pencairan pesangon, guna mengurangi kebutuhan biaya hidup di Tangerang. Di tahap awal pembayaran pesangon, uang pesangon dapat diambil oleh suami / istri dari pekerja yang telah pulang kampung. Namun karena ada beberapa kejadian dimana suami yang mengambilkan uang pesangon istrinya tidak menyerahkan kepada istrinya tapi dipakai untuk menikah lagi, TPD merubah aturan tidak bisa lagi diwakilkan , pesangon harus diambil oleh pekerja sendiri dan bila ingin di transfer maka harus di transfer ke rekening bank atas nama  pekerja yang berhak.

Ada satu kejadian yang tidak akan pernah saya lupakan saat yang datang mengambil pesangon adalah seorang perempuan yang mengalami gangguan kejiwaan akibat kehilangan pekerjaannya di Doson , padahal keluarganya tergantung sepenuhnya pada dia sang pencari nafkah. Saya melihat sendiri bagaimana kondisinya yang terlihat tidak normal,  sungguh prihatin  karena usianya masih muda bahkan belum 30 tahun.

Beberapa kejadian lain juga kami alami dimana pekerja yang tidak sabar menunggu cairnya pesangon,  meminta bantuan pihak ketiga seperti polisi,pengacara hingga preman bergolok yang mendatangi TPD untuk meminta didahulukan pembayaran pesangonnya.

Sebagaimana dua sisi kehidupan, tutupnya PT. Doson Indonesia meninggalkan  duka bagi banyak keluarga yang kurang beruntung  namun di lain sisi ada  juga yang beruntung, dengan uang pesangon mereka bisa membeli  rumah dan lanjut bekerja diperusahaan lain.

Semua manusia tentu ingin beruntung tapi bila kita sedang dalam kondisi kurang beruntung tetaplah bersabar pasti akan waktunya keberuntungan ada dipihak kita.


Share

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *