Shonichi

Share

Hari pertama dalam bahasa Jepang disebut shonichi, hari pertama kembali bekerja di ARSI tanggal 5 Desember 2005 adalah hari yang akan selalu saya ingat sepanjang hidup saya. Dari mulai bangun pagi saya berdoa, ada semangat sekaligus kekhawatiran karena hari pertama baik maupun buruk selalu akan kita kenang bukan? Bagi saya bila hari pertama dapat dilalui dengan baik, seterusnya akan baik, jadi hari pertama adalah hari yang sangat penting.

Saya yang kurang mengerti jalan, sempat khawatir  tersasar tetapi untung tidak, keluar pintu tol  betul, tidak salah dan juga jalan arteri ke arah pabrik ARSI tidak berubah, itu sangat membantu.

Saya tiba di pabrik jam 7 kurang, melihat kembali kantor yang pernah saya tempati dan tinggalkan lalu kembali lagi, ada sedikit kegalauan, office masih ditempat yang sama tidak ada perubahan, akankah nanti persoalan lama terjadi lagi…, saya melihat ada gedung baru dua tingkat di bagian belakang.

Orang-orang yang mengenal saya memberi salam, sepertinya kehadiran saya kembali sudah ramai diketahui, sesuai informasi dari orang dalam mantan anak buah saya dulu. Saya diberitahu meja kerja saya dan langsung ikut senam  di hari pertama .Saya diajak  ikut weekly meeting, orang-orang yang ikut meeting  juga sebagian besar masih sama.

Pada waktu meeting  saya memperkenalkan diri kembali dan secara jujur mengatakan bahwa saya kembali bekerja di ARSI karena permintaan dari pemilik perusahaan serta mohon bantuan dan kerjasama dari para peserta rapat. Saya tidak tahu apakah bijaksana mengatakan demikian namun itu adalah yang sesungguhnya terjadi. Saya tidak pernah meminta atau melamar kerja, tapi dihubungi oleh pemilik langsung. Mungkin bagi beberapa orang saya “pamer” tapi sesungguhnya tidak ada maksud seperti itu, saya tidak pandai bicara tidak tahu harus mengatakan apa di hari itu, jadi hanya mengatakan semua apa ada-nya.

 Dulu saat meninggalkan ARSI, ruang lingkup yang saya geluti hanya terkait dengan Accounting dan Finance, kala kembali  saya meminta posisi di Internal audit  sehingga saya bisa memeriksa  seluruh aspek operasional perusahaan tidak terbatas di bagian administrasi yang meliputi, Accounting/Finance, Human Resource, Purchasing  tapi juga  Produksi, PPIC  dan Engineering.

Ruang kerja kami seperti pada umumnya di perusahaan Jepang  adalah ruang kerja terbuka susunan mejanya; bawahan  di depan dan atasan di belakang. Di belakang saya duduk  direktur, wakil presiden direktur hingga presiden direktur. Setelah weekly meeting selesai, saya mulai menyusun rencana kerja saya sebagai internal auditor.  Sambil merencanakan saya  memeriksa kebijakan-kebijakan dan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) antara perusahaan dengan serikat pekerja.

Pada saat membaca PKB saya menemukan keanehan dalam perhitungan lembur dimana komponen tunjangan transport  ikut dihitung dalam perhitungan lembur. Hal ini tidak sesuai dengan peraturan dan merugikan perusahaan karena terjadi kelebihan bayar dari jumlah seharusnya. Untuk lebih memastikan saya memeriksa pembayaran gaji bulanan dan memang betul nilai uang lembur yang dibayarkan jauh diatas nilai gaji pokok.  Upah minimum saat itu di tahun 2005 adalah sebesar Rp. 693.500,-/ bulan, namun gaji yang dibayarkan rata-rata di atas 2 juta rupiah, selisihnya lumayan jauh ya. Selain itu pengemudi /driver menerima gaji bersih setelah pajak lebih dari 9 juta karena banyaknya lembur, untuk tenaga keamaan/security dan kebersihan/office boy bisa mencapai 4 sampai 6 juta rupiah per bulan, takjub ya.

Mengingat selisih lebih dari nilai lembur yang sangat signifikan saya menanyakan dan memberitahukan kepada Direktur HRD temuan tersebut, beliau ikut terkejut karena tidak mengetahui detail perhitungan lembur. Bapak direktur memanggil manager HRD dan kami mendiskusikan perhitungan lembur  dibandingkan dengan ketentuan yang berlaku memang benar terjadi kelebihan  namun tidak ada yang tahu pasti mengapa itu bisa terjadi.

Selain perhitungan lembur yang kelebihan bayar (over paid) masih ada beberapa hal lain yang saya temukan dari membaca PKB antara lain: tunjangan  transport  double dimana ada pekerja yang ikut jemputan shift malam tapi tetap mendapat tunjangan transport  dan tunjangan pengobatan yang tanpa batas (unlimited).

Sore hari pada saat saya dipanggil oleh presdir yang menanyakan tentang bagaimana hari pertama, saya informasikan perihal  beberapa hal yang saya temukan dari PKB yang tidak menguntungkan perusahaan. Beliau terkejut dan menanyakan perusahaan harus bagaimana apakah ada upaya yang bisa dilakukan oleh perusahaan. Saya katakan bahwa semua itu tercantum dalam PKB, bila hendak merubah isi dari PKB harus dibicarakan dan dirundingkan terlebih dahulu dengan serikat pekerja.  Hari pertama saya di ARSI ditutup dengan tugas dari presdir untuk membenahi kebijakan-kebijakan yang melebihi aturan yang semestinya.

Teman, pembaca… saat saya meninggalkan ARSI dan pindah ke pabrik sepatu Doson,  saya mendapat banyak sekali pelajaran. Permasalahan-permasalahan yang kita hadapi merupakan kesempatan bagi kita untuk menambah ilmu serta kemampuan yang pada akhirnya menambah nilai diri kita. Dahulu saya tidak mengerti PKB dan permasalahan ketenagakerjaan hanya seputar pembukuan dan keuangan namun saat kembali ke ARSI banyak ilmu dan pengalaman yang bisa saya kontribusikan ke perusahaan. Jadi Teman, pembaca.. bila banyak mendapatkan tugas terima saja dengan hati gembira sebab sesungguhnya bukan hanya tugas yang diberikan tapi juga kesempatan bagi kita. S e m a n g a t !!!


Share

2 thoughts on “Shonichi”

  1. Setuju…….! Sebagai salah satu mantan karyawan ARSI saya juga merasakan bahwa menurut saya, ARSi adalah gudangnya ilmu bagi saya
    Banyak hal yang saya dapatkan walaupun hanya beberapa dari semuanya tapi sangat memberikan arti bagi saya

  2. Saya suka membaca ceritanya, karena akan menambah pengetahuan seseorang akan sesuatu.Pengalaman seseorang dapat dijadikan pelajaran buat diri sendiri.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *