Keesokan hari, hari kedua saya di ARSI BOD mengadakan rapat. Saya tidak tahu apa yang dibahas namun setelah rapat selesai salah seorang direktur menghampiri saya dan mengatakan kepada saya untuk tidak membuat susah orang. Saya terkejut tidak mengerti maksud dari ucapan tersebut tapi tidak menanyakan lebih lanjut, dugaan saya mungkin temuan masalah PKB. Tidak mungkin ada masalah yang besar dan merugikan perusahaan tidak saya katakan bukan?
Karena sudah mendapatkan mandat dari presdir Saya tetap fokus menjalankan rencana kerja yang telah tersusun dikepala. Dalam satu minggu pertama sudah banyak temuan yang saya dapati dan bisa melihat dengan jelas perusahaan kurang terkontrol baik. Lembur sangat banyak, backlog order banyak dan pengiriman barang dengan udara (air freight) juga sangat banyak biayanya mencapai milyaran rupiah. Data semua ada dan saya dapatkan, bukan buatan saya, mengapa para pimpinan membiarkan semua itu terjadi, kalau boleh jujur saya berpikir apa yang mereka lakukan, mengapa hal-hal itu bisa terjadi? Saya juga memantau pekerjaan dari middle management sampai dengan staff, mereka banyak melakukan lembur pula dan terlihat sibuk namun tidak jelas apa yang dikerjakan.
Minggu berikut pada saat weekly meeting wakil presdir (VP) mengatakan bahwa dia sedang mempertimbangkan apakah perlu ada internal audit di ARSI. VP tidak bisa Bahasa Inggris juga Indonesia, sehingga semua komunikasi dilakukan lewat penterjemah. Saya tertegun sekaligus tersinggung dengan pernyataan tersebut, bagi saya pernyataan yang sangat vulgar, yang menyiratkan bahwa ARSI tidak butuh kehadiran saya sebagai internal auditor. Saya diam tidak menjawab serta tidak bereaksi saya berpikir bila begini lebih baik saya mundur dari ARSI sebab dengan kondisi manajemen seperti ini yang tidak mendukung dan tidak mau bekerja sama akan sulit untuk membenahi masalah-masalah yang telah saya lihat selama seminggu bekerja. Saya membuat laporan hasil evaluasi selama satu minggu serta sekaligus mengirimkan email pengunduran diri kepada presdir saat saya selesai bekerja pada hari itu, saya tidak pamit baik pada direktur maupun VP hanya kepada beberapa orang saja saya minta diri. Barang-barang pribadi saya bawa pulang dan keesokan harinya saya tidak bekerja lagi.
Presdir menghubungi saya, juga mengirim email meminta agar saya tidak cepat putus asa dan berhenti begitu saja, presdir memohon bantuan saya untuk membenahi operasional ARSI berdasarkan temuan-temuan yang ada, beliau berjanji bahwa VP akan mendukung tugas saya sebagai internal auditor.
Lewat penterjemah, VP juga meminta bertemu dengan saya di ARSI dia meminta maaf atas pernyataannya serta juga memohon agar saya mau tetap bekerja di ARSI. Dengan pertimbangan bahwa saya tidak boleh begitu cepat menyerah sebelum berhasil serta membuktikan hasil temuan audit selain ada pula perasaan tidak enak terhadap presdir maka saya putuskan untuk melanjutkan bekerja kembali keesokan harinya.
Perjalanan selanjutnya tetap tidak mudah, VP kerap bersunggut-sunggut dan muka selalu merengut bila bertemu dengan saya. Menurut presdir waktu VP tersebut bertugas di United States (US) sikapnya memang demikian kurang menghargai pimpinan perempuan, jadi saya diminta untuk bersabar dalam menghadapi sang VP. Selain sikapnya yang memang demikian, perasaan Saya mengatakan bahwa ada campur tangan dari orang lain yang memberi masukan-masukan kepada VP , istilah gaulnya kompor, sehingga dia makin anti pada saya.
Saya berusaha untuk mengacuhkan sikap dan perilaku dari VP, berkonsentrasi pada tugas dan tanggung jawab saya. Disela waktu kerja dan istirahat saya juga bertemu dan wawancara beberapa key person guna mendapatkan gambaran lebih jauh operasional ARSI. Didalam perusahaan ada staff dan pekerja yang melihat kesenjangan yang terjadi, beberapa diantara mereka dulu bekerja dibawah saya. Mereka mengharapkan dengan kehadiran saya kesenjangan bisa berkurang dan ada keadilan. Hal itu sesuai dengan apa yang saya lihat selama beberapa minggu dan saya bertekad untuk memperbaharui ARSI.





