Natal terakhir bersama Mama

Share

24 Desember 2009 adalah Natal terakhir bersama Mama ku. Saat itu kami hendak ikut misa malam Natal di gereja Santo Yakobus di paroki Kelapa Gading. Seperti Natal-natal sebelumnya, Mama selalu mau hadir dimisa pertama dan sudah duduk didalam gereja 2 jam sebelum misa dimulai. Kurang lebih 30 menit sebelum misa dimulai, saya dan kakak membawa Mama ke toilet terlebih dahulu, karena biasa misa malam Natal cukup lama. Pada saat kami keluar tempat duduk didalam gereja telah penuh, dibarisan tempat duduk kami, ada keponakan jadi mereka yang menjaga tempat duduk kami.

Kami di toilet agak lama karena Mama duduk di kursi roda dan harus pelan-pelan sebab lantai  licin dan kami bergantian masuk ke toilet. Selesai dari toilet kembali kedalam gereja kami ditegur oleh seorang Ibu petugas tata laksana yang mengatur didalam gereja. Dia mengira kami baru datang dan keponakan yang datang duluan “ngetem” tempat duduk untuk kami. Sang Ibu petugas keberatan 2(dua) orang mengantar 1 (satu)orang tua, harusnya 1 orang saja katanya. Saya jelaskan bahwa Mama membutuhkan kursi roda jadi perlu dibantu. Orang yang duduk dibelakang tempat duduk kami juga membantu menjelaskan bahwa memang betul dari tadi kami sudah di gereja, namun sang Ibu petugas mengabaikan. Merasa bahwa saya tidak akan sanggup lagi ikut misa dalam keadaan emosi, saya mempersilahkan tempat duduk saya diberikan kepada orang lain dan saya keluar dari gereja.

Karena datang paling awal dan kendaraan sudah penuh, saya tidak bisa lagi mengeluarkan mobil, jadi saya duduk menunggu didalam mobil dan membaca buku. Capai duduk saya keluar dari mobil dan jalan di areal gereja. Melihat satpam, petugas parkir   dan orang-orang, hati  saya tergerak untuk memberikan mereka uang jajan. Saya kembali ke mobil mengambil dompet dan membagi-bagikan uang. Mungkin orang yang menerima uang memberitahu pada yang lain sehingga petugas kebersihan dan yang lain menghampiri saya juga. Uang saya bagikan sampai dompet saya kosong. Menjelang misa berakhir saya berdiri didepan pintu agar nanti bisa menjemput Mama, disaat itu masih ada yang datang dan bilang tadi belum dapat uang ?.

Perasaan saya waktu itu tidak terlupakan, Gaes… sedih, marah, semua campur aduk. Sampai saat menulis cerita ini pun masih terbayang kejadian itu dengan sangat jelas. Tidak bisa misa bersama Mama padahal itu menjadi misa Natal terakhir bersama Mama yang meninggal pada pertengahan tahun 2010. Tidak bisa mengerti mengapa sang ibu petugas begitu angkuh tidak mau mendengar penjelasan orang. Beruntung Allah gerakkan hati saya untuk berbagi sehingga bisa melihat senyum di wajah orang-orang dan hati saya jadi sejuk kembali.

Saran Indri : Pada saat kita berada pada posisi bisa mengatur, hendaklah bijaksana, jangan menilai orang lain dengan asumsi buruk dan dengarkan lah penjelasan orang.


Share

4 thoughts on “Natal terakhir bersama Mama”

  1. Selamat merayakan natal, semoga Tuhan selalu melimpahkan berkah kesehatan untuk seluruh kelurga ibu Indri , berkah untuk sesama…. Amin

    Mohon maaf sudah 5 Tahun, kami tidak menjalin komunikasi dengan iIbu. Terima kasih.

  2. Saya agak heran juga , di saat sedang marah dan sedih, Anda masih bisa melakukan kebaikan, berusaha untuk memberikan kebahagian kepada orang lain. Tindakan yg bagus dan patut di contoh , dan saran anda memang benar.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *