Selama bekerja banyak hal sudah pernah saya lalui dan saat tersulit sebagai pemimpin adalah pada saat harus mengambil keputusan untuk memberhentikan seseorang.
Hati kecil memahami bahwa pekerja butuh pekerjaan untuk menghidupi keluarganya, namun tanggung jawab sebagai pemimpin juga menuntut saya untuk bertindak tegas. Keputusan besar memberhentikan seseorang tidak begitu saja muncul, selalu ada proses, ada sebab dan akibat. Bila bukan karena kesalahan berat dan kesalahan yang terus berulang, tidak mungkin seseorang sampai diputus hubungan kerjanya.
Perang batin pada saat harus memutuskan PHK (pemutusan hubungan kerja) adalah yang paling menyiksa saya selama memimpin. Umumnya orang melihat hanya yang kasat mata, mereka tidak mampu memahami apa yang terjadi didalam batin saat keputusan itu harus diambil. Sadis, jahat, tega dan cemoohan lain pasti dilontarkan untuk saya dan harus saya terima semua itu.
Hati saya perih bila mengingat keluarga dari mereka yang harus menerima keputusan PHK. Keluarga-nya tidak bersalah tapi harus turut menjadi korban. Saya bisa merasakan kesedihan dan ketakutan akan bagaimana kelanjutan hidup keluarga setelah PHK.
Tidak mungkin begitu PHK anak istri ikut berhenti makan dan sekolah, mereka tidak bersalah tapi harus ikut jadi sengsara. Kalau saya ada di posisi pekerja dan keluarganya, saya bagaimana? Semua itu saya jadikan pertimbangan.
Guna meringankan beban saya selalu membekali mereka yang terkena PHK dengan pesangon maksimal sesuai dengan undang-undang ketenagakerjaan dan kadang tambahan agar pekerja dan keluarganya tetap bisa bertahan sambil mempersiapkan kehidupan selanjutnya. Untungnya nilai pesangon di Indonesia saat ini jumlahnya cukup besar.
Memberikan orang-orang tertentu kenangan dengan acara perpisahan sehingga mereka mampu meninggalkan perusahaan dengan kepala diangkat dan bermartabat serta doa agar jalan mereka dimudahkan. Ada beberapa orang yang tetap berhubungan baik dengan saya walau mereka pernah saya PHK. Saya sungguh sangat berterima kasih pada mereka karena mengerti posisi saya sebagai pribadi dan sebagai pimpinan perusahaan.
Dalam perenungan saya berusaha berpikir bahwa saya hanya alatNya. Lewat keputusan saya orang tertentu harus mengalami hal buruk, namun bila dia bekerja baik tentu perusahaan tidak mau kehilangan dia. Saya melakukan tanggung jawab saya walaupun saya sendiri harus tersiksa.
Pesan untuk sahabat indri : bekerjalah dengan penuh disiplin, sungguh-sungguh dan bertanggung-jawab, jangan berikan kesempatan pada perusahaan untuk memberhentikan kita. Sebaliknya buatlah perusahaan yang ingin mempertahankan dan tidak ingin kehilangan kita.






Bagus banget sharingnya, dapat dijadikan motivasi buat saya untuk dapat disiplin dalam bekerja dan terus semangat dalam bekerja,
Saya mengenal Ibu Indri sebagai seorang pemimpin yg sangat thought pada saat mengambil keputusan