Waktu berlalu dengan cepat dan tiba saatnya untuk pembaharuan PKB (Perjanjian Kerja Bersama) antara manajemen perusahaan dengan serikat pekerja. Manajemen mengusulkan perubahan perhitungan lembur, tunjangan transport, pengobatan serta beberapa kebijakan lainnya yang dipandang perlu disesuaikan dengan kondisi perekonomian yang terkini pada saat itu di tahun 2006. Usulan tersebut mendapatkan penolakan yang besar. Toilet-toilet di areal produksi menjadi sasaran para pemrotes yang tidak berani bicara secara terus terang penolakan mereka. Karikatur, kata-kata kotor dan hinaan serta fitnah ditulis di tembok toilet, pagi dibersihkan /di-cat, sore sudah muncul kembali. Kata-kata yang tidak ingin saya lihat dan hiraukan karena apa pun yang dikatakan, pembaharuan harus dilakukan bila ingin perusahaan tetap eksis.
Sementara itu upaya-upaya menjatuhkan saya agar keluar dari ARSI juga terus berlanjut, TKA (Tenaga Kerja Asing) terlibat mempengaruhi karyawan dibagian mereka bekerja. TKA yang sopirnya berhenti karena tidak bersedia menerima aturan baru terpaksa harus menerima sopir baru dan itu membuat mereka mengeluh. Hubungan dekat “tahu sama tahu” oleh para TKA dengan sopir menjadi salah satu hal yang saya lihat menjadi alasan keberatan mereka diganti sopir baru, mereka tidak peduli biaya yang harus ditanggung oleh perusahaan dan terutama mereka tidak mau menerima perubahan. Timpangnya pendapatan sopir dengan staff sampai assistant manager/manager tidak bisa terus dibiarkan. Saya kerap mendengar keluhan, sindiran bahwa pendapatan staff sampai dengan manajer kalah dengan pendapatan sopir sehingga keputusan untuk penggantian status sopir tidak bisa dianulir, harus tetap dilaksanakan walau para TKA tidak dapat menerimanya.
Di areal produksi saya mencoba untuk menggali lebih dalam permasalahan yang ada sehingga mengakibatkan besarnya lembur, tingginya back-log dan pengiriman lewat udara yang begitu mahal. Temuan yang saya dapatkan antara lain masalah mesin-mesin tua, masalah mold, lead-time mold, masalah kualitas produksi, perawatan mesin dan peralatan yang kurang, pekerjaan yang seharusnya bisa dikerjakan sendiri oleh bagian maintenance disubcontkan kepada pihak ketiga, modifikasi mesin tua yang mahal namun tidak bisa mencapai target yang diharapkan. Genset yang ada tidak mencukupi sehingga tiap kali listrik padam, pekerja dipulangkan. Pekerjaan sederhana cabut bari (perapihan) juga disubcont-kan keluar, produk ARSI dibawa keluar dan kembali ke pabrik tanpa dihitung sehingga bila produk hilang tidak dapat diketahui. Semua seperti benang kusut atau lingkaran setan, diatas semua itu tidak ada seorangpun yang berani mengatakan “saya bertanggung-jawab”. Semua pimpinan lepas tangan,menyalahkan orang-orang yang dibawah.
Selain produksi di bagian personalia dan umum pun diluar masalah penggajian ada masalah lain antara lain penjualan limbah, limbah yang masih ada nilai ekonomis diambil oleh preman dan perusahaan yang harus membayar mereka, ada biaya sedot tinja setiap minggu, perawatan gedung juga disubcont-kan. Pembelian tanah yang tidak disertai surat yang sah dan asli. Perusahaan tidak mampu menjaga keamanan karyawan ada preman mabuk memukul karyawan ARSI dibiarkan. Selain itu juga banyak pencurian terjadi.
Dengan banyak-nya temuan masalah, presdir memutuskan untuk membebas-tugaskan manajer engineering dan personalia umum. Selain karena masalah yang ada kami menilai bahwa akan sulit mengajak mereka yang telah lama bekerja dengan kondisi begitu untuk berubah. Mereka adalah teman-teman saya namun tidak bisa hanya melihat pertemanan, saya harus bertanggung jawab pada seluruh karyawan pula. Saya hanya bisa membantu dengan memberikan mereka bekal yang cukup untuk bertahan sambil mencari pekerjaan baru.
Sementara itu VP masih terus mempersulit langkah pembaharuan, mungkin karena beberapa manager telah dibebas-tugaskan serta ada kekhawatiran akan terus dilakukan “pembersihan” kelompok yang bersebrangan semakin kalap dan aktif menyebar intrik. Saya mendengar informasi rencana demo besar untuk mendesak agar saya dikeluarkan dari perusahaan dan disana ada campur tangan dari VP.
Saat tidak bisa lagi mentolerir sikap dari VP saya meminta presdir selaku pemilik untuk memilih mempertahankan VP atau saya yang akan keluar dari perusahaan.Tanpa ragu presdir menjawab bahwa beliau pasti memilih saya karena saya adalah orang Indonesia, perusahaan ini ada di Indonesia. Mendengar itu hati saya tersentuh dan berjanji pada diri saya sendiri bahwa saya harus membayar kepercayaan yang diberikan dengan kerja keras dan mendapatkan hasil yang optimal bagi perusahaan.
Selain perundingan dengan serikat pekerja, presdir juga menjelaskan langsung kepada pekerja mengenai perubahan-perubahan yang di-inginkan. Setelah perundingan tidak mencapai titik temu, manajemen perusahaan menawarkan win-win solution bagi semua pekerja. Pekerja yang tidak dapat menerima perubahan PKB sesuai dengan usulan dari manajemen,boleh mengambil pensiun dini dengan mendapatkan pesangon sesuai peraturan saat itu yaitu sebesar 2 (dua) PMTK (Peraturan Menteri Tenaga Kerja) ditambah 1 bulan gaji. Pekerja diberi waktu untuk mendaftarkan diri dan perusahaan menentukan kapan mereka bisa berhenti karena kami harus mempersiapkan tenaga pengganti agar produksi bisa tetap berjalan dan tidak boleh ada masalah delivery kepada para pelanggan.
Total jumlah pekerja pensiun dini cukup banyak lebih dari 30% selain yang ingin pensiun dini (volunteer) manajemen juga memberikan pensiun dini untuk beberapa pekerja yang dinilai sudah tidak produktif dan yang kinerjanya kurang bagus. Kerjasama team dari seluruh departemen berjalan sangat baik sehingga proses transisi orang lama dan baru tidak ada kendala yang berarti.
Saya sangat bersyukur dan lega satu tugas besar yang membebani perusahaan dapat diselesaikan dengan baik, walau pembenahan masih harus berlanjut sudah terasa lebih ringan dalam melangkah maju.





